Oleh: Muhammad Muhajir

moehammadm@gmail.com

PENDAHULUAN

Pada abad 21, pendidikan menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan teknologi informasi dan media, serta keterampilan hidup untuk bekerja dan bertahan hidup.

Pembelajaran abad 21 adalah pembelajaran yang mempersiapkan generasi abad 21, dimana perkembangan teknologi berkembang begitu pesat sehingga berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk belajar mengajar. Itulah sebabnya pemerintah merencanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk abad ke-21. Guru sebagai perpanjangan tangan manajemen di sekolah menerapkan pembelajaran abad 21 (Bakrun, 2018:22). Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menggambarkan abad ke-21 sebagai era informasi, di mana informasi menyebar dan teknologi berkembang. Karakteristik abad ke-21 dibentuk oleh dunia ilmu pengetahuan yang semakin saling berhubungan, sehingga sinergi di antara keduanya tetap berjalan cepat (Karim & Daryanto, 2017:2). Perkembangan dunia abad 21 ditandai dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di segala bidang kehidupan.

Pendidikan nasional abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu bangsa Indonesia yang sejahtera dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia global dengan membentuk masyarakat yang terdiri dari sumber-sumber yang berkualitas, yaitu individu-individu yang mandiri, mau dan mampu mendukung terwujudnya cita-cita bangsanya (Karim & Daryanto, 2017:2).

Untuk mendukung terciptanya pendidikan yang baik, diperlukan pendekatan pembelajaran yang tepat dan sesuai. pendekatan pembelajaran adalah salah satu cara atau jalan yang sesuai dan serasi yang digunakan untuk menyajikan atau menyampaikan sesuatu bahan ajar agar tujuan tercapai secara efektif dan efisien (Solikah, 2015). Berbagai pendekatan telah dikembangkan dan digunakan dalam pembelajaran. Saat ini, pendekatan yang popular dan banyak digunakan adalah Pendekatan STEM. Namun sebagaimana diketahui, sejak 15 abad yang manusia telah menggunakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran dalam memahamkan pengetahuan dan melatih kecakapan. Telaah kepustakaan ini membahas Pendekatan STEM dan alternatif model Pembelajaran yang dapat digunakan dalam pendekatan STEM. Diharapkan hasil telaah ini dapat memberi pengetahuan tentang pendekatan STEM dan alternatif model pembelajaran pembelajaran menjadi lebih efektif, efisien dan bermakna dalam kehidupan dan pekerjaan.

PEMBAHASAN

  1. Pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics)

STEM adalah singkatan dari Science, Technology, Engineering and Math. Beberapa praktisi menambahkan disiplin Seni (Art) ke dalamnya, sehingga menjadi STEAM. STEM digagas oleh Amerika Serikat, merupakan pendekatan yang menggabungkan keempat disiplin ilmu tersebut secara terpadu ke dalam metode pembelajaran berbasis masalah dan kejadian kontekstual sehari-hari. Pendekatan STEM menerapkan pengetahuan dan keterampilan secara bersamaan untuk menyelesaikan suatu kasus. Pendekatan ini dinyatakan sebagai pendekatan pembelajaran abad-21 dalam upaya untuk menghasilkan sumber daya manusia dengan kognitif, psikomotor dan afektif yang berkualitas. Di Amerika, STEM telah dibahas sejak tahun 1990-an dan sampai sekarang masih terus dikembangkan.

Sebagaimana dijelaskan Torlakson (2014), definisi dari keempat aspek STEM adalah sebagai berikut:

  1. Science memberikan pengetahuan kepada peserta didik mengenai hukum-hukum dan konsep-konsep yang berlaku di alam;
  2. Technology adalah keterampilan atau sebuah sistem yang digunakan dalam mengatur masyarakat, organisasi, pengetahuan atau mendesain serta menggunakan sebuah alat buatan yang dapat memudahkan pekerjaan;
  3. Engineering adalah pengetahuan untuk mengoperasikan atau mendesain sebuah prosedur untuk menyelesaikan sebuah masalah;
  4. Math adalah ilmu yang menghubungkan antara besaran, angka pola, dan ruang yang hanya membutuhkan argumen logis tanpa atau disertai dengan bukti empiris.

Pengintegrasian keempat aspek STEM (Science, Technology, Engineering and Math) dalam pembelajaran akan sangat membantu peserta didik menyelesaikan suatu masalah kontekstual dan konseptual secara jauh lebih komprehensif dan bermakna. Lebih lanjut, Tsupros, Kohler, and Hallinen’s mendefinisikan pendekatan STEM sebagai pendekatan interdisiplin ilmu dalam pembelajaran yang mana berbagai konsep keilmuan digabungkan/dikaitkan dengan kejadian dunia nyata saat siswa menerapkan sains, teknologi, teknik, dan matematika dalam konteks yang menghubungkan antara sekolah, komunitas, tempat kerja dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi STEM dan bersaing dalam bursa ekonomi baru (Alisia, 2019).

Untuk memahami lebih lanjut tentang STEM berdasarkan disiplin ilmu yang menjadi sandaran STEM, NRC (2014) menjabarkan bahwa:

  1. Sains adalah kegiatan yang melibatkan pemahaman dan penerapan tentang fenomena alam dan keadaan perilaku sosial menggunakan metodologi sistematis, dan berdasarkan bukti melalui observasi dan eksperimen;
  2. Teknik/rekayasa merupakan pengetahuan dan keterampilan untuk merancang dan meng- kontruksi mesin, sistem, material dan proses yang bermanfaat bagi manusia secara ekonomis dan ramah lingkungan;
  3. Teknologi merupakan berbagai inovasi untuk memodifikasi alam agar memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia.
  4. Matematika adalah segala sesuatu terkait pola-pola, hubungan-hubungan, angka-angka, kuantitas, dan ruang serta menyediakan bahasa bagi teknologi, teknik dan sains.

Dalam konteks pendidikan dasar dan menengah, pendidikan STEM bertujuan mengembangkan peserta didik yang STEM literate (Bybee, 2013) dengan rincian sebagai berikut:

  1. Memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mengidentifikasi pertanyaan dan masalah dalam situasi kehidupannya, menjelaskan fenomena alam, mendesain, serta menarik kesimpulan berdasar bukti mengenai isu-isu terkait STEM. 
  2. Memahami karakteristik khusus disiplin STEM sebagai bentukbentuk pengetahuan, penyelidikan, dan desain yang digagas manusia.
  3. Memiliki kesadaran bagaimana disiplin-disiplin STEM membentuk lingkungan material, intelektual dan kultural.
  4. Memiliki keinginan untuk terlibat dalam kajian isu-isu terkait STEM (misalnya efisiensi energi, kualitas lingkungan, keterbatasan sumberdaya alam) sebagai manusia yang konstruktif, peduli, dan reflektif menggunakan gagasan-gagasan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.

Penggunaan pendekatan STEM dalam pembelajaran memberikan peluang bagi peserta didik bahwa konsep, prinsip, dan teknik dari sains, teknologi, rekayasa, dan matematika digunakan secara terintegrasi dalam pengembangan produk, proses, dan sistem serta terutama dapat mengarahkan peserta didik dalam mencari solusi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka. 

Dalam proses pembelajaran, STEM sebagai pendekatan dapat saja kesemua unsur disiplin ilmu tidak hadir semua dan lengkap. Dapat saja dalam suatu kegiatan pembelajaran, unsur yang hadir hanya 2 atau 3 unsur saja dan tidak ada ketentuan semua unsur wajib hadir.

  • Model-Model Pembelajaran dengan Pendekatan STEM

Dalam mengefektifkan dan memudahkan peserta didik memahami dan menguasai keterampilan dari materi pembelajaran, berbagai model pembelajaran dapat dipilih oleh guru. Berikut dibahas tentang berbagai model pembelajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan Pendekatan STEM dalam pembelajaran:

  1. Discovery learning

Model Pembelajaran Discovery Learning menekankan pada penemuan konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui dengan fokus masalah yang direkayasa oleh guru. Penerapan model pembelajaran Discovery Learning menitikberatkan peran guru sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. Oleh sebab itu, bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan. Dalam modul pelatihan Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa sintak discovery learning terdiri atas 6 fase sebagai berikut:

  1. Pemberian Rangsangan

Pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan penasaran atau kebingungan agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru juga dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.

  • Identifikasi Masalah

Peserta didik diberi kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran berdasarkan hasil stimulasi, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

  • Pengumpulan Data

Ketika eksplorasi berlangsung, peserta didik mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

  • Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh peserta didik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

  • Pembuktian

Tahap ini memberikan kesempatan peserta didik untuk melakukan pemeriksaan secara cermat dalam membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data. Pesertaa didik diberi kesempatan untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

  • Menarik Kesimpulan

Tahap ini adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi

  • Inquiry Learning

Model Pembelajaran Inquiry Learning berfokus pada siswa menemukan masalah sehingga harus mengerahkan seluruh pengetahuan dan keterampilan untuk mendapatkan temuan dalam masalah tersebut melalui proses penelitian. Sanjaya (2014) menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran inquiry learning sebagai berikut:

  1. Orientasi
    Pada tahap ini guru dapat memberitahukan siswa mengenai: materi apa yang akan dipelajari; apa tujuan yang akan dicapai; mempersiapkan siswa untuk mulai menggunakan model pembelajaran inkuiri.
  2. Merumuskan Masalah

Peserta didik diarahkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan. Masalah dapat disajikan dengan cara yang menarik seperti demonstrasi unik ataupun dalam bentuk teka-teki sehingga siswa tertantang untuk mencari tahu apa yang terjadi dan merumuskannya dalam suatu pertanyaan ataupun pernyataan yang kelak harus dijawabnya sendiri.

  • Merumuskan hipotesis.

Peserta didik membuat suatu hipotesis atau jawaban sementara dari masalah yang telah disaksikannya. Hipotesis belum tentu benar sehingga doronglah anak-anak untuk tidak takut dalam mengemukakan hipotesisnya. Guru juga dapat membantu siswa membuat hipotesis dengan memberikan beberapa pertanyaan yang jawabannya mengarah pada hipotesis siswa.

  • Mengumpulkan data

Pada tahap ini siswa melakukan aktivitas mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang telah dibuatnya. Dalam pembelajaran inquiry tahapan ini merupakan suatu proses yang sangat penting untuk mengembangkan kemampuan intelektual siswa karena pada tahap ini siswa dilatih untuk menggunakan seluruh potensi berfikir yang dimilikinya.

  • Menguji hipotesis

Hipotesis yang telah dibuat kemudian diuji dengan cara dibandingkan dengan data yang ada lalu kemudian ditunjukkan (melatih kemampuan rasional siswa).

Merumuskan kesimpulan.

Pada langkah ini siswa dituntut untuk mendeskripsikan temuan yang telah diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis, sehingga dapat mencapai kesimpulan yang akurat.

  • Problem Based Learning

Model pembelajaran Problem Based Learningmerupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual. Pada Problem Based Learning (PBL), guru berperan sebagai guide on the side dari pada sage on the stage. peserta didik menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, terutama kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran ini. Hal ini menegaskan pentingnya bantuan belajar pada tahap awal pembelajaran. Peserta didik mengidentifikasi apa yang mereka ketahui maupun yang belum berdasarkan informasi dari buku teks atau sumber informasi lainnya. Menurut Arend (2004), sintak model Problem Based Learning adalah:

  1. Orientasi peserta didik pada masalah;
  2. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar;
  3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok;
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan
  5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
  6. Project Based Learning, menggunakan proyek/kegiatan sebagai inti pembelajaran. Peserta didik menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.

Dalam Modul Pelatihan Kurikulum 2013 bagi SMA dan https://www.pblworks.org/what-is-pbl menjelaskan bahwa:

  1. Penentuan Pertanyaan Mendasar

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalamdan topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. 

  • Mendesain Perencanaan Proyek 

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung penyelesaian proyek. 

  • Menyusun Jadwal 

Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (a) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (b) membuat deadline penyelesaian proyek, (c) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (d) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (e) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. 

  • Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek 

Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Proses monitoring dapat dilakukan dengan menggunakan rubrik untuk merekam keseluruhan aktivitas penting. 

  • Menguji Hasil 

Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. 

  • Mengevaluasi Pengalaman 

Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

  • Learning Cycle 5E

Bybee & Landes (1990) menjelaskan bahwa model learning cycle 5E berorientasi pada pembelajaran kontruktivisme (constructivist approach) yang memperhatikan pengalaman dan pengetahuan awal siswa serta bertujuan meningkatkan pemahaman konsep siswa. Kondisi pembelajaran beranjak dari isu-isu sains yang relevan dengan lingkungan siswa, memicu proses kritis pada diri siswa serta memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan orang lain agar siswa dapat membangun pengetahuannya secara utuh.

Model ini memiliki 5 tahap sebagai berikut:

  1. Engagement (keterlibatan), memusatkan perhatian siswa dan mengikutsertakan siswa ke dalam sebuah konsep baru dengan cara memberikan pertanyaan motivasi, memberikan gambaran tentang materi yang akan dipelajari, demonstrasi, atau aktivitas lain yang digunakan untuk membuka pengetahuan siswa dan mengembangkan rasa keingintahuan siswa. Pengetahuan awal siswa digali untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pikiran siswa mengenai konsep yang akan dipelajari. Hal terpenting dalam fase ini adalah guru menghindari mendefinisikan dan membuat penjelasan tentang konsep yang akan dibahas.
  2. Exploration (penjelajahan), diwujudkan dalam kegiatan laboratorium (praktikum)/kerja lapangan dan diskusi yang dilakukan secara berkelompok. Siswa diajak terlibat secara langsung pada fenomena atau situasi yang mereka selidiki dan merancang dan melakukan eksperimen atau praktikum, melakukan pengujian hipotesis, serta melakukan pengumpulan data/informasi untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Siswa dilibatkan secara fisik dan mental. Sebagai hasil keterlibatan mental dan fisik mereka dalam kegiatan tersebut, para siswa akan mampu membentuk hubungan, mengamati pola, mengidentifikasi variabel, dan bertanya. Guru berperan sebagai fasilitator atau pemandu yang mengarahkan siswa agar mampu mengeksplorasi dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikan. 
  3. Explanation (menjelaskan), siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan pemahaman tentang konsep atau teori yang telah diketahui, keterampilan proses, atau perilaku. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menganalisis data/informasi yang dikumpulkan dari kegiatan pada fase sebelumnya. Guru membimbing siswa untuk menyampaikan hasil kegiatan yang telah mereka lakukan dengan menggunakan ide dan kata-kata mereka sendiri, sehingga diharapkan pemahaman konsep muncul dari pengalaman mereka setelah melakukan kegiatan. Tujuan tahap ini adalah untuk memperbaiki kesalahan dalam temuan siswa sebelum tahap berikutnya.
  4. Elaboration (elaborasi) merupakan fase yang dapat dianggap sebagai perpanjangan langkah penelitian karena adanya masalah suplemen (penguat). Fase ini memfasilitasi siswa untuk dapat menerapkan konsep yang telah mereka peroleh berdasarkan kegiatan yang telah mereka lakukan ke dalam situasi atau masalah yang baru. Masalah baru tersebut memiliki penyelesaian yang identik atau mirip dengan apa yang dibahas sebelumnya. Siswa menggunakan konsep yang baru dipelajari dalam situasi berbeda atau mengulangi beberapa kali aplikasi yang berhubungan dengan konsep yang dipelajari agar menjadi masukan ke dalam memori jangka panjangnya dan menjadi permanen. Selama fase elaborasi, siswa dapat dilibatkan kembali dalam kegiatan diskusi dan pencarian informasi. Siswa mengidentifikasi masalah dan mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan melalui diskusi.
  5. Evaluation (menilai) merupakan fase saat guru mencari tahu kualitas dan kuantitas ketercapaian pemahaman siswa terhadap topik yang telah mereka pelajari. Guru mengajukan pertanyaan dan membuat siswa merespon secara lisan atau tulisan. Selain itu, siswa diminta untuk mengaitkan apa yang telah mereka pelajari dengan situasi di kehidupan nyata. Evaluasi informal dapat terjadi pada awal dan seluruh urutan model siklus belajar 5E. Guru juga dapat menyelesaikan evaluasi formal setelah fase elaborasi. Evaluasi bisa dilakukan secara formatif maupun sumatif dan berfokus pada kemampuan siswa menggunakan informasi yang telah mereka peroleh selama kegiatan pembelajaran.
  6. Field Based Learning

Dalam Kosasih (2017), Behrend dan Franklin menjelaskan bahwa ada serangkaian kegiatan yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran model field based leaning, yaitu: 

  1. Persiapan siswa: guru mempersiapkan bahan (masalah/topik dan tujuan kegiatan) dan siswa membaca sejumlah bahan bacaan sebelum kegiatan dilaksanakan. Dan juga menjelaskan aturan dan perilaku yang harus dilaksanakan atau dijaga siswa selama di lapangan.
  2. Pertanyaan: siswa bertanya dan mencari tahu tentang masalah atau topik. Siswa juga harus mampu mengambil tindakan/menyusun pertanyaan lain yang tepat jika lokasi dan topik yang ingin diketahui sulit di dapat.
  3. Menyediakan waktu untuk berdiskusi tenatng temuan dan pengalaman selama mencari jawaban
  4. Mengolah data dan mengaitkan dengan rujukan: diharapkan siswa menemukan jawaban atau konsep sesuai rujukan, jika tidak maka ada penjelasan mengapa tidak.
  5. Asesmen pengalaman di lokasi dan konfimasi hasil: evalusi terhadap pengalaman di lokasi dan penyampaian hasil yang diharapkan sehingga siswa dapat membandingkan hasil yang didapat dengan hasil yang diharapkan.

KESIMPULAN

Pendidikan merupakan suatu proses untuk mencerdaskan manusia melalui interaksi terus menerus antara pendidik dan muridnya dengan menggunakan berbagai pendekatan dan model agar pembelajaran yang ingin disampaikan dapat dipahami dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Pada saat ini, Pendekatan STEM dan model pembelajaran yang berbasis konteks dan lingkungan sekitar menjadi pilihan dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia. Tuntutan pengetahuan, keterampilan, sikap dan dunia kerja abad 21 mengharuskan pendidikan berkembang dan pembelajaran harus bermakna. Berbagai Pendekatan dan model akan terus dikembangkan sesuai kebutuhan dan untuk memastikan pembelajaran telah sesuai tujuan. Salah satu tanda pembelajaran telah terjadi adalah apabila terdapat perubahan di kalangan pelajar.

REFERENSI

Alisia, G. (2019). Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Stem terhadap Self Efficacy dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Materi Fisika di SMAN 1 Padang Cermin (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Artiani, L. (2020). Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan Pendekatan Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) Berbasis Picture (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Daryanto, S. K. (2017). Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gaya Media

Duran, L., & Duran, E. (2004). The 5E Instructional Model: A Learning Cycle Approach\rfor Inquiry-Based Science Teaching. The Science Educational Review, 3(2).

Kosasih, E. (2017). Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) dalam Pengembangan Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra13(2), 109-121.

Siregar, N. C., Rosli, R., & Nite, S. (2023). Students’ interest in Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) based on parental education and gender factors. International Electronic Journal of Mathematics Education, 18(2), em0736. https://doi.org/10.29333/iejme/13060

Solikah, A. (2015). Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran Pada Sekolah Unggulan: Studi Multi Situs di MI Darul Muta’Alimin Frateran 1 Kota Kediri. Deepublish.

Yuanita, Y., & Kurnia, F. (2019). Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Stem (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) Materi Kelistrikan untuk Sekolah Dasar. Profesi Pendidikan Dasar, 1(2). https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.9046

Leave a Comment